This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 27 September 2014

Curug Cikaso

   Curug Cikaso berlokasi di Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Curug Cikaso sebenarnya bernama Curug Luhur, mengalir dari anak sungai Cikaso yang bernama Cicurug. 
     Curug Cikaso terbentuk dari tiga titik air terjun yang berdampingan dalam satu lokasi dengan di bagian bawahnya terdapat kolam dengan warna airnya hijau kebiru-biruan.  Kedua titik air terjun dapat terlihat dengan jelas sedangkan yang satu agak tersembunyi dengan tebing yang menghadap ke timur.  Ketiga air terjun mempunyai nama yang berbeda, sebelah kiri bernama Curug Asepan, tengah bernama Curug Meong dan kanan bernama Curug Aki.  Ketiga curug ini memiliki ketinggian sekitar 80 meter dengan lebar tebingnya sekitar 100 m. Berkunjung ke Curug Cikaso sebaiknya pada pagi hari karena bias sinar matahari yang baru terbit akan tercipta dengan jelas dari butir-butir halus cipratan air terjun.  
      Curug cikaso menjadi Primadona para turis lokal maupun mancanegara untuk melepas penat setelah menjalani beberapa kesibukan kesehariannya, pengunjung akan merasakan sensasi ketenangan yang bisa menyatu dengan alam, disini pengunjung akan menikmati suasana yang 95 % masih alami, Di bawah limpahan curug terdapat kolam yang alirannya langsung terjun ke laut muara Tegal Buleud, Sukabumi. Selain itu, kolam kecil tersebut dapat dipakai untuk berenang, namun perlu diawasi oleh Safety guard (penjaga keamanan), karena kedalaman Curug Cikaso bisa mencapai 15 m.  
       Fasilitas yang tersedia di Curug Cikaso antara lain terdapat beberapa warung makan dan kios yang menjual suvenir serta terdapat toilet. 

Jumat, 26 September 2014

Kawah Putih Ciwidey


      Kawah Putih Ciwidey adalah objek wisata paling terkenal di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat, kurang lebih sekitar 50 km arah selatan kota Bandung. Kawah Putih adalah sebuah danau yang terbentuk akibat dari letusan Gunung Patuha. Sesuai dengan namanya, tanah yang ada di kawasan ini berwarna putih akibat dari pencampuran unsur belerang. Selain tanahnya yang berwarna putih, air danau kawasan Kawah Putih juga mempunyai warna yang putih kehijauan dan dapat berubah warna sesuai dengan kadar belerang yang terkandung, suhu, dan cuaca.
        Kawah Putih Ciwidey berada di kawasan pegunungan yang mempunyai ketinggian lebih dari 2.400 meter di atas permukaan laut. Dengan ketinggian tersebut, suhu udara di kawasan ini tentu saja dingin dengan suhu 8 derajat Celsius sampai dengan 22 derajat Celsius, oleh karena itu jangan lupa membawa jaket atau memakai pakaian yang tebal.
      Selain untuk dinikmati keindahannya oleh para wisatawan, Kawah Putih Ciwidey juga sering kali menjadi tempat kegiatan lain, misalnya pengambilan gambar film, melukis, foto pengantin, sampai dengan kegiatan mendaki dan berkuda. Kawah Putih Ciwidey mempunyai fasilitas penunjang kenyamanan berwisata yang memadai, yaitu area parkir yang luas, mushola, transportasi dari gerbang depan sampai dengan kawah, pusat informasi, restoran dan warung makanan serta toilet.







Sejarah Kawah Putih Ciwidey
      Cerita mengenai Kawah Putih Ciwidey bermula pada abad ke-10 yang terjadi saat letusan hebat Gunung Patuha. Setelah letusan tersebut, banyak yang beranggapan bahwa lokasi ini adalah kawasan angker karena setiap burung yang terbang melewati kawasan tersebut akan mati.
        Seiring dengan berjalannya waktu, kepercayaan mengenai angkernya tempat ini mulai pudar, sampai akhirnya pada tahun 1837 ada seorang ahli botani dengan kebangsaan Jerman datang ke kawasan ini untuk melakukan penelitian. Peneliti yang bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn sangat tertarik dengan kawasan pegunungan sunyi, bahkan tidak ada burung yang terbang di atasnya. Pada saat itu, ia mencari informasi ke warga setempat, seluruh informasi yang ia dapatkan adalah bahwa kasawan tersebut angker dan dihuni oleh mahluk halus.
     Menurut Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, pernyataan masyarakat setempat tersebut tidaklah masuk akal. Karena tidak percaya dengan cerita-cerita tersebut, ia pergi ke dalam hutan rimba untuk mencari tahu apa yang ada di sana. Akhirnya Dr. Franz Wilhelm Junghuhn berhasil mencapai puncak gunung, dan di sana ia melihat keberadaan sebuah danau indah berwarna putih dengan bau belerang yang menyengat.
     Sejak itu, keberadaan Kawah Putih Ciwidey menjadi terkenal mulai dari tahun 1987 pemerintah mengembangkan kawasan ini sebagai tempat wisata yang menawarkan pemandangan unik, yaitu melihat danau yang dapat berubah warna.

Telaga Warna

     Telaga Warna merupakan salah satu tujuan wisata andalan Kabupaten Wonosobo yang berlokasi di Kecamatan Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah.  Untuk mencapai Telaga Warna, pengunjung dapat berkendara sekira 25 km dari Wonosobo. Harmonisasi alam dengan udara yang sejuk dan bersih membuat suasana Telaga Warna Dieng begitu memikat. Pengunjung juga akan merasakan suasana mistis yang hening disempurnakan oleh kabut putih dan pepohonan yang melingkupinya.
     Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Pengunjung bisa menyaksikan di tengah telaga terdapat letupan air mendidih.


    Pengunjung dapat menyusuri tepian telaga ini dan ada juga balkon kecil untuk duduk bersantai sambil menikmati udara dan keanekaragaman fenomena alam yang mengelilinginya. Lokasi paling tepat untuk menikmati keindahan telaga ini selain berada tepat di hadapannya, pengunjung bisa mendaki ke puncak bukit yang memagari telaga. Kondisi menuju bukit ini cukup sempit dan licin yang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. 
   Di sekitar Telaga Warna Dieng tidak tersedia fasilitas kuliner, jadi para pengunjung disarankan untuk membawa perbekalan sendiri. Jika pengunjung ingin pilihan kuliner lain, maka setelah atau sebelum menuju Telaga Warna Dieng sempatkan mampir di sepanjang jalan. Di sana terdapat warung makan dan umumnya adalah bakso, soto dan makanan sejenis lainnya. Di Dieng terdapat minuman khas penghangat badan yang biasa disebut purwaceng. Ada juga purwaceng kopi, susu dan purwaceng akar. Ketiganya mempunyai khasiat sama yaitu untuk menghangatkan badan.
     Di sekitar Telaga Warna tedapat beberapa gua yang patut untuk dikunjungi seperti Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati. Di depan gua terdapat arca wanita dengan membawa kendi. Gua ini juga memiliki kolam kecil yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Ada juga Gua Sumur Eyang Kumalasari, dan Gua Jaran Resi Kendaliseto. Selain itu, ada pula Batu Tulis Eyang Purbo Waseso.  Gua-gua di sekitar kawasan ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi.

Waduk Darma

    Waduk Darma adalah sebuah danau buatan yang terletak di Desa Jagara, Kecamatan Darma sekitar 12 km dari Kota Kuningan, Jawa Barat.
    Waduk Darma berfungsi sebagai penampungan air, selain itu juga dijadikan sebagai sarana rekreasi dan olahraga. Panorama di sekitar Waduk Darma pada saat matahari tenggelam menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Apalagi bila menikmatinya sambil duduk di perahu yang mengelilingi pulau mungil bernama Munjul Goong yang ada di tengah-tengah Waduk Darma.

Pulau Munjul Goong di tengah Danau Darma
    Namun objek wisata ini belum bisa memberikan kontribusi yang berarti terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Kuningan, karena tidak banyak memiliki fasilitas hiburan dan tempat bermain. Saat ini fasilitas yang baru tersedia seperti tempat duduk untuk menikmati udara dan pemandangan di sekitar waduk, areal camping, kolam renang bagi anak-anak, perahu motor, penginapan, wahana outbond seperti flyingfox serta wisata air seperti berperahu rakit dan memancing.

Sejarah Waduk Darma
    Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, dahulu pada saat para wali masih hidup, Waduk Darma merupakan bendungan atau situ yang cukup besar yang di buat oleh mbah Satori (mbah Dalem Cageur). Tujuan mbah Dalem Cageur (Embah Satori) membuat bendungan/Situ ini adalah untuk tempat bermain putranya yaitu Paneran Gencay, selain itu mbah Dalem Cageur memiliki hobi memelihara ikan.
     Dalam pembuatan bendungan tersebut mbah Dalem Cageur tidak sedikit mengerahkan tenaga dari pada kurawanya sehingga memerlukan hidangan yang cukup banyak untuk menjamu para pekerjanya. Konon menurut cerita untuk menanak nasi itu, mbah Dalem Cageur memilih salah satu bukit yanga berada di sebelah desa Darma (Desa Kawah Manuk) sehingga sampai saat ini tempat bekas menanak nasi itu di beri nama "bukit Pangliwetan".
    Setelah selesai pembuatan Situ, mbah Dalem Cageur membuat sebuah perahu yang terbuat dari papan kayu jati dengan ukuran yang cukup besar. Perahu itu dibuat untuk bermain anaknya. Setiap siang dan malam Pangeran Gencay bersama rekan-rekannya terus bermain di atas perahu itu. Sementara para penduduk menyaksikan di sekeliling Situ sambil menabuh berbagai gamelan. Konon tempat penduduk memainkan gamelan itu di beri nama "Muncul Goong".
    Takdir tidak dapat dipungkiri, pada suatu malam tepat pada saat bulan purnama, Pangeran Gencay bersama para pengasuhnya yang sedang bersenang-senang menaiki perahu buatan ayahnya tenggelam di tengah-tengah Situ dan merenggut nyawa Pangeran Gencay.
     Setelah jenazah Pangeran Gencay ditemukan dan dibawa ke suatu tempat yang bernama "Munjul Bangke" (Munjul artinya tempat yang menonjol sedangkan Bangke artinya Bangkai) lalu dimakamkan di desa Jagara. Adapun tempat tenggelamnya Pangeran Gencay oleh penduduk di beri nama "Labuhan Bulan" karena perahunya tenggelam tepat pada saat bulan purnama (Labuhan artinya kalebuh dan kalebuh artinya tenggelam).


 

Pantai Suluban


       Pantai Suluban terletak di Desa Pecatu, ujung selatan Kabupaten Badung, 3 km dari kawasan Uluwatu. Jarak tempuh menuju lokasi pantai ini sekitar 34 km dari kota Denpasar dan kira-kira 45 menit perjalanan bila menggunakan kendaraan bermotor dari Bandara Ngurah Rai Bali. Untuk mencapai Pantai Suluban, wisatawan harus melewati jalan menanjak dan berkelok dengan suasana lingkungan pemandangan perbukitan yang sangat menawan, terlebih dahulu melewati Blue Point Villas, setelah itu baru sampai di kawasan Pantai Suluban. Pantai Suluban dikenal dengan nama Blue Point Beach berada di kawasan perbukitan batu karang dan merupakan salah satu obyek wisata yang memiliki panorama indah dan eksoktik dengan ombaknya yang besar. Obyek ini telah banyak dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik.
          Pantai ini dinamakan Suluban, dalam bahasa Bali, Masulub mempunyai arti berjalan atau lewat dibawah sesuatu, sedangkan sesuatu di atas kepala itu dinamakan Pasuluban. Jadi disebut Pantai Sulubun karena bila ingin ke pantai ini harus terlebih dahulu melewati tebing batu karang yang menyerupai goa atau terowongan sebelum akhirnya sampai di pantai yang luas, berpasir putih dengan gemuruh gelombangnya menyenangkan.
     Selain itu bila hendak melihat panorama pantai Suluban yang indah  dari ketinggian, terdapat  tangga kayu sampai keatas tebing. Oleh pihak pengelola pantai tersebut, di atas tebing dibuatkan semacam gazebo/pos dari kayu di mana pengunjung dapat menyaksikan dengan leluasa pemandangan laut yang indah.
        Di Pantai Suluban tersedia berbagai fasilitas seperti restaurant, bar, penginapan, warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman, toko yang menjual barang-barang suvenir dan penyewaan peralatan surfing.





Kamis, 25 September 2014

Pantai Uluwatu

     Pantai Uluwatu terletak di Desa Pecatu, Bali, satu arah dengan pantai Dreamland dan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK). Pantai ini sangat disukai oleh pecinta olahraga air yaitu surfing karena ombak di pantai ini cukup besar karena tepi pantainya berupa batu-batu karang. Pantai Uluwatu juga jarang dijadikan tujuan wisata oleh biro perjalanan wisata karena pantai ini agak tersembunyi dari jalanan dan untuk mencapainya wisatawan harus berjalan kaki menyusuri anak tangga yang lumayan melelahkan.
    Uluwatu juga sangat terkenal dengan Pura Luhur Uluwatunya. Pura ini terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut, diatas tebing batu karang yang menjorok ke laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura. 

Pura Luhur Uluwatu
      Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.
      Di sekitar kawasan pura terdapat kera yang menghuni dan menjaga area ini. Di lokasi pura ini sering diadakan pertunjukkan tari Kecak asli Bali yang sangat unik itu. Selain itu di kawasan pura dan pantai Uluwatu ini, wisatawan bisa menyaksikan pemandangan matahari terbenam atau sunset yang sangat indah tak kalah dengan pantai lain di Bali.

Pertunjukan Tari Kecak di Pura Luhur Ulawatu



Pantai Banyu Tibo

       Pantai Banyu Tibo berada di Desa Widoro, Kecamatan Donorejo, Pacitan, Jawa Timur. Lokasi pantai ini berada di bawah tebing sehingga wisatawan harus berhati-hati saat berjalan menuju pantai ini. Setelah berhasil melewati tebing, udara sejuk khas pantai ini akan menyambut para wisatawan. Di pantai ini para wisatawan tidak hanya bisa bermain air dan berenang, tetapi wisatawan bisa menikmati pemandangan yang jarang ada di pantai lain, yaitu air terjun yang berada di Pantai Banyu Tibo. Dalam bahasa Jawa, banyu berarti air sedangkan tibo berarti jatuh.Seperti namanya, Pantai Banyu Tibo memiliki keindahan air terjun air tawar yang langsung mengalir ke bibir pantai. Pemandangan ini sangat jarang kita temui apabila kita sedang berwisata di pantai.
     Pantai Banyu Tibo didominasi karang-karang yang tinggi dan memiliki pasir pantai yang tidak begitu luas. Keindahan pantai bisa wisatawan nikmati dari atas karang. Batuan kapur yang tergerus ombak laut menjadikan hiasan tersendiri seperti sebuah ukiran kayu yang sangat mempesona mata. Air terjun yang mempercantik Pantai Banyu Tibo ini berasal dari mata air pegunungan yang tidak pernah kering walaupun saat musim kemarau, mengalir melewati bebatuan menjadikan sebuah sungai yang sangat jernih dan jatuh ke bibir pantai dan menjadi titik pertemuan antara air tawar dan air pantai.



     Hanya sebuah gubug reot kecil milik nelayan yang dapat wisatawan temui di Pantai Banyu Tibo. Karena pantai ini belum banyak yang mengetahui, sehingga hanya terdapat fasilitas-fasilitas minim tetapi cukup memadai.  Justru dengan minimum fasiltas ini akan menjaga kealamian Pantai Banyu Tibo ini. Jika ingin berkunjung ke Pantai Banyu Tibo tidak usah khawatir karena fasilitas parkir kendaraan bermotor sudah dikelola oleh warga. Bagi wisatawan yang hobi memancing, dapat memancing diatas tebing. Karena tebing dipantai ini kebanyakan langsung berada diatas laut lepas, dengan teknik rock fishing wisatawan dapat menikmati sensasi memancing di laut.
    Karena terletak di sebuah desa, akomodasi penginapan akan sulit ditemui. Apabila wisatawan ingin menginap, disarankan untuk menginap di Kota Pacitan yang jaraknya tidak begitu jauh. Fasilitas di sekitar pantai akan sulit ditemui.